Anggota
Komisi D DPRD DKI Muhammad Sanusi mengungkapkan, pihaknya menemukan anggaran pos tak terduga
sebesar Rp 300 miliar di Dinas Pekerjaan Umum DKI.
JAKARTA, Saco-
Indonesia.com — Anggota Komisi D DPRD DKI Muhammad Sanusi mengungkapkan,
pihaknya menemukan anggaran pos tak terduga sebesar Rp 300 miliar di Dinas Pekerjaan Umum DKI.
Menurutnya, hal itu berpotensi dikorupsi.
Ditemui di kantornya, Selasa (4/6/2013)
pagi, Sanusi mengungkapkan, temuan dana itu didapat saat Komisi D DPRD DKI melakukan rapat
kerja dengan Dinas PU DKI dan sejumlah pejabat lain. Menurutnya, Dinas PU memiliki dana
paling besar dari dinas lain di Pemprov DKI, yakni Rp 7 triliun.
"Tapi
penyerapannya rendah sekali. Dana tidak terprediksi atau sewaktu-waktu ada Rp 300 miliar. Ini
sangat mungkin dikorupsi," ujar Sanusi.
Sanusi menjelaskan, potensi korupsi
yang bisa terjadi adalah melalui proyek tambal sulam jalan di DKI. Dengan dana tersebut, Dinas
PU dapat sewaktu-waktu menjalankan proyek tambal sulam sejumlah jalan berlubang di DKI
Jakarta tanpa perencanaan akurat sebelumnya.
"Misalnya jalan bolong
dikit ditambal dan bolong lagi. Ini kan jadinya proyek terus. Harusnya enggak boleh,
mereka harus bisa prediksi jalan kapan habis masanya, baru itu benar," tutur Sanusi.
Sanusi menilai, persoalan ini harus ditangani oleh Gubernur DKI secara langsung. Jangan
sampai, keberhasilan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama tercoreng dengan penyerapan
anggaran rendah hanya pada Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Kompas.com
telah berusaha mengonfirmasi hal tersebut kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Manggas Budi
Siahaan. Namun, ponsel yang bersangkutan tak kunjung tersambung.
Editor : Liwon Maulana
Sumber:Kompas.com
Tiga pegawai Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kehutanan yakni Magdalena Gultom (45), warga Jalan Tekuku
Tiga pegawai Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kehutanan yakni Magdalena Gultom (45), warga Jalan Tekukur II/31, Perum Bekasi, Agata Susilowati (52), warga Perumahan Titian Kencana, Bekasi Barat dan Nandar Aditia (25) seorang sopir warga Jalan Kusuma Timur, Blok D 27/5, Kelurahan Arum Jaya, Bekasi tewas setelah mengalami kecelakaan di KM 32.600 Tol Jagorawi, Senin (10/3).
Informasi yang telah diperoleh menyebutkan kecelakaan nahas itu telah terjadi sekitar pukul 06.30 pagi WIB saat mobil Nissan Terrano yang ditumpanginya melintas dari Jakarta menuju Bogor. Diduga karena Nandar, sang sopir mengantuk akhirnya menabrak mobil boks di depannya hingga terbalik.
Korban tewas mengalami luka benturan di bagian kepala dan dada. Saat ini, seluruh korban sudah berada di ruang forensik RS PMI Bogor.
Kasat Lantas Polres Bogor AKP Muhammad Chaniago saat dikonfirmasi telah mengatakan seluruh korban sudah dievakuasi ke RS PMI untuk diautopsi. "Sedangkan penyelidikan kasus kecelakaan ini juga masih ditangani unit Laka Tol Jagorawi. Dugaan sementara karena sang sopir mengantuk," katanya.
Berdasarkan pantauan hingga saat ini belasan rekan kerja korban di Balitbang, Kementerian Kehutanan yang berkantor di Gunung Batu, Bogor Barat, Kota Bogor ramai mengunjungi ruang forensik RS PMI. Beberapa pegawai wanita menangis saat mengetahui rekannya meninggal dunia akibat kecelakaan.
"Korban sebelumnya bertugas di Balitbang di kantor Jakarta, baru dua bulan pindah ke Bogor," tutur salah seorang rekan kerja korban.